Halaman

saya

saya
* Mengenai Saya Saya hidup di antara mereka dan Tuhan memberikan apa yang harus saya berikan untuk mereka dengan jalan berkesenian. Solo,19 January 1986....saya di ciptakan tuhan dan di lahirkan di tempat kecil dimana q menyebutnya rumah.Rumah di mana tempat pertama kali q pijak dan q melihat wajah kedua orang tua saya. Mereka membimbing,mengasuh dan memberi q semangat....,semangat untuk sebuah angan"hingga saya tumbuh menjadi dewasa.Tepatnya di tahun 2006,ISI Solo menjadi tempat study,dan menjadi proses jati diri dalam perjalanan hidup saya di seni lukis.Waktu mempertemukan saya dengan teman" dari seni rupa murni dan membentuk komunitas fine art di SOLO bersama mereka.bersama,kami membetuk kehidupan dalam proses berkesenian kami.

Selasa, 07 Februari 2012

. wacana



   seni sekarang seperti produk. Karena pengaruh mahluk yang namanya kapitalisme, industrialisasi, dan materialisme yang mengagungkan proses produksi, barang-barang seni dibuat menjadi produksi. Dibuat terus-menerus tanpa pencarian estetis dan kreativitas yang menjadi ciri dari karya seni. Kapitalisme senjatanya adalah uang. Semuanya diatur oleh peredaran uang terhadap semua pemain-pemain seni. Uang menjadi begitu berpengaruh sehingga menggadaikan idealisme, pencarian estetis dan kreativitas.
Kerangka kritik terhadap kondisi seni rupa yang impoten ini adalah otoritas kapitalisme industrialisasi seni sebagai wacana. Lanjutan dari wacana itu adalah lahirnya dominasi kekuasaan seni rupa dengan lawannya kelompok seniman kiri dengan menggulirkan wacana alternatif. Kekuasaan otoriter kapitalisme industrialisasi telah menjadi pakem dan darah daging untuk menciptakan kekuasaan kesenian yang ditanam kuat terhadap para pemain seni rupa. Tentu saja pemilik modal atau pemain dominan akan menebarkan pengaruhnya, sekali lagi dengan uang dan kekuasaan, yang menguasai ide dan tindakan para pemain seni lainnya.
Pemain seni rupa lainnya mau tidak mau masuk dalam lingkaran hitam pragmatis kapitalis dan industrialis ini. Posisi ini mereka ambil karena tidak punya kekuatan untuk melawan dan melakukan oposisi terhadap dominasi ini. Sikap yang ambigu dan mendua dirasakan seniman yang lainnya. Antara tetap memelihara idealis atau tercebur menjadi kapitalis. Bukan hanya seniman, semua pemain seni (rupa) juga telah mempraktikkan industrialisasi, tapi mereka menolak menyebut dirinya kapitalis.
Seniman sebagai kreator karya seni menjadi pemain pertama yang bergaya kapitalisme malu-malu ini. Sudah menjadi rahasia umum, jika perbincangan dan pergaulan seniman saat ini tidak lagi urusan pencarian jati diri estetis dan proses kreatif, seniman sangat asyik untuk membicangkan bagaimana perdagangan dan peta dominasi kapitalisme industrialisasi seni. Bagaimana cara melakukan trik-trik berdagang “produksi seni” dengan galeri, hubungan selingkuh dengan kurator dan membujuk kolektor berpengaruh untuk memunculkan karyanya. Sangat menyedihkan memang.
Akhirnya, memang pelukis sangat tergantung terhadap pasar, tentunya agar lukisannya laku diterima pasar dan pemegang dominasi perdagangan seni.
Wacana Kritik (Industri) Seni
Maka menjadi penting menghadirkan wacana-wacana dan karya-karya untuk membongkar kembali semua kebusukan kolektor dominan yang menempatkan seniman dan pemain seni rupa lainnya menjadi robot produksi repetisi karya seni. Bukankah karya seni bukan kondom yang bisa dicetak ulang terus menerus tanpa memikirkan proses kreatif bahkan pencarian estetis.
Pemain seni rupa (galeri, kurator, wartawan, spekulan, dsb.) di Bali telah lama terjangkit sindrom besar kapitalis ini. Ditambah lagi dengan wacana dominasi yang intens terus ditularkan pada seniman muda. Disamping dominasi estetis dikuasai oleh seniman senior, kurator/kritikus, kini masalah lebih kompleks daripada sebelumnya adalah pengaruh kuat industrialisasi, kapitalisme, dan uang. Bingkai kapitalisme ini terus didorong dengan menciptakan hegemonik dalam semua elemen seni yang ada. Misalkan saja, seniman muda, lembaga akademik, museum, galeri, spekulan, dsb.
Karena menjadi bagian proses industrialisasi, seni menjadi bukan barang sakral lagi. Nasib seni, jika masih masuk lumpur kapitalisme industrialisasi, sama dengan kondom, sepatu Nike, susu kaleng dan barang produksi lainnya. Maka seni bukan lagi karya langka, estetis, kreatif, bahkan kata orang Bali metaksu.
Maka, permainan dan bisnis seni rupa melahirkan usaha untuk menciptakan ikon seni rupa terus menerus. Lahirlah wacana menggoreng. Seperti layaknya orang menggoreng, maunya sendiri dengan menambahkan apa yang mereka (pemegang dominasi) kehendaki. Goreng-menggoreng dalam dunia seni juga ada. Istilah ini sangat populer di Yogyakarta.
Proses menggoreng dimulai dari seniman senior yang menjadi panutan dan laris manis. Nyoman Gunarsa, Erawan, Wianta, Sika, untuk memberi contoh pelukis “panutan”yang laris manis di Bali. Karya-karya mereka selalu ditunggu dan menjadi rebutan kolektor. Masih ingat bagaimana Erawan diminta berkarya lagi, asalkan bertema Pralayamatra. Lukisannya sebelumnya laku keras sampai ada yang memesan ke rumahnya. Seniman dengan segala cara berusaha untuk merebut hati pasar yang dikuasai oleh kolektor berpengaruh yang mudah saja memainkan pasar. Tentunya seniman harus berusaha merebut hati pemain seni rupa lainnya (kolektor, galeri, kritikus berpengaruh). Seniman berkarya over produktif. Hubungan dengan seniman yang lain menjadi “aneh”, saling cemburu, bersaing, dan berlomba-lomba untuk menonjolkan diri.
Proses berlangsung mengakibatkan seniman tergantung bagaimana “gorengan” pasar terhadap dirinya. Tentunya menunggu reaksi dari kolektor berpengaruh.Pemain seni rupa inilah yang bertindak sebagai tukang goreng yang memainkan seniman sesuai dengan selera dan kehendak hatinya. Kolektor berpengaruh ini punya kongsi yang bisa sepakat untuk menaikkan harga seniman tertentu. Otoritas kolektor berpengaruh ini
Akhirnya, peta pasar menjadi kacau dibuatnya. Konsumen lain, yang berada diluar pemain dominasi tadi menjadi gamang dan tidak punya acuan tegas untuk menilai terhadap karya-karya yang ada. Konsumen minoritas ini mau tidak mau terpengaruh terhadap permainan industrialisasi sebesar-besarnya yang diterapkan oleh kolektor dominan tadi. Akhirnya, perkembangan seni menjadi kacau. Para pedagang seni menambahkan nilai kesan (image) yang luar biasa terhadap dagangannya.

Tidak ada komentar: